Kamis, 14 Maret 2013

Artikel Delegasi,wewenang dan koordinasi


MENGOPTIMALKAN PERANAN MANAJEMEN MELALUI
KOORDINASI, DELEGASI, DAN WEWENANG
Indah Suprihatin Ahmad Hasanudin Imlia Rufaida Novi Agestince Rizky Nur Kholifah.
JL.Kalimantan No.37 Kampus Tegal Boto Jember
S1  MANAJEMEN

ABSTRAK
Manajemen merupakan suatu proses yang merencanakan, mengoorganisasikan, memimpin dan mengendalikan pekerjaan anggota organisasi dan menggunakan semua sumberdaya organisasi untuk mencapai suatu sasaran organisasi yang sudah ditetapkan.di dalam manajemen ada 3 hal yang penting yang harus di lakukan untuk mengoptimalkan efektifitas suatu perusahaan,3 hal tersebut adalah koordinasi,delegasi dan wewenang. Koordinasi merupakan proses pengintegrasian tujuan-tujuan dan kegiatan-kegiatan pada satuan-satuan yang terpisah (depertemen atau bidang-bidang fungsional)  selain itu wewenang juga sangat berpengaruh dalam mengatur suatu organisasi hal  ini dikarenakan wewenang adalah hak yang dimiliki oleh atasan untuk melakukan atau tidak melakukan tugas demi tercapainya kegiatan-kegiatan pada depertemen atau bidang-bidang fungsional  selain itu wewenang juga sangat berpengaruh dalam mengatur suatu organisasi hal  ini dikarenakan wewenang adalah hak yang dimiliki oleh atasan untuk melakukan atau tidak melakukan tugas demi tercapainya tujuan organisasi tersebut. Delegasi merupakan pelimpahan wewenang dan tanggung jawab formal kepada orang lain untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Ketiga hal tersebut saling berkaitan dan menentukan berhasil atau tidaknya suatu organisasi.
Kata kunci : koordinasi, delegasi, dan wewenang.



PENDAHULUAN
Manajemen adalah seni mengorganisasikan,mengatur,memimpin,merencanakan dan mengendalikan suatu organisasi. ilmu manajemen banyak di gunakan dalam mengelola suatu perusahaan, di dalam ilmu manajemen terdapat pembelajaran – pembeljaran,bagaimana cara mengelola suatu perusahaan dengan efisien, cara pngendalian tersebut dikenal dengan koordinasi,delegasi dan wewenang. Ketiga hal tersebut sangat penting dilakukan dalam suatu perusahaan, hal ini bertujuan untuk memaksimalkan kinerja perusahaan untuk memperoleh profit yang sebesar – besarnya.
PEMBAHASAN
Koordinasi
·         Di dalam administrasi, koordinasi bersangkutpaut dengan penyerasian serta penyatuan tindakan dari sekelompok orang (William H. Newman)
·         Koordinasi adalah penyerasian yang teratur usaha-usaha untuk menyiapkan jumlah yang cocok menurut mestinya, waktu dan pengarahan pelaksanaan hingga menghasilkan tindakan-tindakan harmonis dan terpadu menuju sasaran yang telah ditentukan. (george R. Terry)
·         Koordinasi adalah proses pemaduan sasaran dan kegiatan dari unit-unit kerja yang terpisah untuk dapat mencapai tujuan organisasi secara efektif. (James AF Stoner)
·         Koordinasi merupakan aktifitas dan fungsi manajemen yang dilakukan untuk mengusahakan terjadinya kerjasama yang selaras dan tertib mengarah pada tercapainya tujuan organisasi secara menyeluruh (Syamsi, 1994)
·         Menurut Suganda (1991) dan Handoko (1997) adalah proses penyatu-paduan sasaran dan berbagai kegiatan dari berbagai unit yang terpisah (bagian atau bidang fungsional) dari suatu organisasi untuk mencapai tujuan organisasi secara efisien.
·         Koordinasi menurut beberapa pakar seperti Leonard D. White, Henry Fayol, George R. Terry, dan james D. Mooney. Menurut D. white, koordinasi adalah penyesuaian diri dari masing-masing bagian pada waktu yang cocok sehingga dengan demikian masing-masing bagian dapat memberikan sumbangan terbanyak pada keseluruhan hasil. Sedangkan menurut Henry Fayol, mengkoordinasi berarti mengikat bersama, menyatukan dan menyelaraskan semua kegiatan dan usaha.Dapat disimpulkan bahwa koordinasi adalah suatu usaha kerja sama atau proses pengintergrasian antar unit, bidang atau departemen untuk mencapi suatu tujuan secara efisien.Tanpa koordinasi setiap individu, bagian, unit atau departemen akan kehilangan pegangan dalam menjalankan organisasi.

Unsur – Unsur Koordinasi
            Menurut Terry unsur organisasi adalah usaha-usaha sinkronisasi yang teratur (orderly synchronization of effort), pengaturan waktu (timing) dan terpimpin (directing), harmonis (harmonious)serta tujuan yang ditetapkan (Started objective).Menurut James D. Money unsure organisasi adalah susunan yang teratur dari usaha kelompok (orderly arrangement of group effort), kesatuan tindakan (unity of action), serta tujuan bersama (common purpose).
            Menurut sugandha(1991) unsur yang terkandung dalam usaha koordinasi terdiri dari
1.      Unit-unit atau organisasi-organisasi
2.      Sumber-sumber (potensi)
3.      Kesatu-paduan
4.      Gerak kegiatan
5.      Keserasian
6.      Arah yang sama (sasaran)
Sehingga dapat disimpulkan bahwa unsur koordinasi pada dasarnya meliputi:

1.      Kepemimpinan
2.      Kesatu-paduan
3.      Sinkronisasi
4.      Kepentingan dan tujuan bersama

Tujuan Koordinasi
·         Mensinkronisasikan dan menyelaraskan kegiatan dan tujuan masing-masing bidang atau unit kerja
·         Dapat menghindarkan dari penyimpangan tugas dan sasaran
·         Mencegah pemborosan, menghemat pembiayaan, waktu, tenaga dan material
·         Menghindari kekosongan dan tumpang tindih pekerjaan
·         Mengintergrasikan tindakan dan pemanfatan unsur manajemen kearah sasaran organisasi

Macam – Macam Koordinasi
·         Koordinasi vertikal : adalah koordinasi dari atasan ke bawahan, pengarahan dilakukan atasan terhadap unit-unit kerja yang berada di bawah wwenang dan tanggung jawabnya.
·         Koordinasi horizontal : koordinasi antara organisasi yang mempunyai kedudukan sejajar
·         Koordinasi diagonal : koordinasi diantara organisasi yang bukan merupakan antara atasan dan bawahan.
Syarat – Syarat Koordinasi
Agar koordinasi dapat dilakukan dengan mudah diperlukan beberapa syarat yang harus dipenuhi
·         Perasaan untuk bekerjasama
·         Adanya rasa persaingan antar bagian sehingga terjadi perlombaan untuk mencapai kemajuan, hal ini biasanya terjadi di perusahaan besar.
·         Semangat tim
·         Semangat korps, perasaan menghargai kesatuan atau organisasi.
Manfaat Koordinasi
Koordinasi sangat diperlukan dalam manajemen, terutama untuk menyatukan kesamaan pandangan antara berbagai pihak yang berkepentingan dengan kegiatan dan tujuan organisasi. Koordinasi diperlukan untuk menghubungkan bagian yang satu dengan bagian yang lain sehingga tercipta suatu kegiatan yang terpadu mengarah pada tujuan umum lembaga. Tanpa koordinasi, spesialisasi dan pembagian kerja yang dilakukan pada setiap usaha, kerja samaakan sia-sia karena setiap bagian cenderung hanya memikirkan pekerjaan atau tugas masing-masing dan melupakan tujuan lembaga secara keseluruhan.
Melalui koordinasi setiap bagian yang menjalankan fungsi dengan spesialisasi tertentu dapat disatupadukan dan dihubungkan satu sama lain sehingga dapat menjalankan peranannya secara baik dalam mewujudkan tujuan bersama.  Koordinasi sangat penting meningkatkan efesiensi dan efektifitas pencapaian tujuan lembaga. Dengan demikian, manfaat koordinasi dalam manajemen dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
·           Menghilangkan dan menghindarkan perasaan terpisah satu sama lain antara atasan dan bawahan.
·           Menghindarkan perasaan atau pendapat bahwa dirinya atau jabatannya merupakan yang paling penting.
·           Mengurangi dan menghindakan kemungkinan timbulnya pertentangan antar pejabat dan pelaksana.
·           Menghindarkan timbulnya rebutan fasilitas.
·           Menghindarkan terjadinya peristiwa menunggu yang memakan waktu lama.
·           Menghindarkan kemungkinan terjadinya kesamaan pekerjaan sesuatu kegiatan.
·           Menghindarkan kemungkinan terjadinya kekosongan pekerjaan sesuatu program atau kekosongan pengerjaan tugas oleh para manajer.
·           Menumbuhkan kesadaran tugas oleh para manajer untuk saling memberikan bantuan satu sama lain terutama bagi mereka yang berada dalam wilayah yang sama.
·           Menumbuhkan kesadaran para manajer untuk saling memberitahu masalah yang dihadapi bersama dan bekerjasama dalam memecahkannya.
·           Memberikan jaminan tentang kesatuan langkah di antara para atasan atau bawahan.
·           Menjamin adanya kesatuan langkah dan tindakan diantara manajer.
·           Menjamin kesatuan sikap diantara manajer.
·           Menjamin kesatuan kebijaksanaan di antara manajer dalam wilayah tertentu.


Masalah Pencapaian Koordinasi yang Efektif
            Meningkatnya spesialisasi akan menaikan kebutuhan akan koordinasi. Tapi hal tersebut akan menyulitkan para manajer dalam mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan khusus pada bidang atau unit yang berbeda. Menurut Paul R Lawrence dan Jay W. Lorch terdapat 4 tipe perbedaaan dalam individu maupun departemen-departemen dalam organisasi yang mempersulit tugas pengkoordinasian, yaitu:
1. Berbeda orientasi terhadap suatu tujuan tertentu. Masing-masing bagian mempunyai pandangan masing-masing tentang bagaimana mencapai suatu tujuan.Misalnya saja bagian penjualan berpikir bahwa jenis produk yang bermacam-macam lebih penting daripada meningkatkan kualitas produk tersebut, bagian keuangan berpikir tentang pembiayaan yang harus dikendalikan, sedangkan bagian pemasaran berpendapat bahwa design produk lebih penting.
1.      Perbedaan dalam orientasi waktu. Misalnya manajer produksi akan lebih memprioritaskan penyelesaian masalah yang mendesak. Bagian penelitian dan pengembangan lebih terlibat dalam masalah-masalah jangka panjang seperti penelitian tentang produk yang dapat diproduksi atau meneliti selera konsumen sehingga produk tersebut dapat diterima di masyarakat.
2.      Perbedaan dalam orientasi antar pribadi. Dalam kegiatan produksi yang dituntut cepat dalam pengambilan keputusan yang dalam hal tersebut diperlukan komunikasi yang lancar, sedangkan bagian penelitian dan pengembangan dapat lebih santai dan setiap orang mengemukakan pendapat satu sama lain.
3.      Berbeda dalam formalitas struktur. Setiap bagian atau unit-unit mempunyai standar yang berbeda dalam mengevaluasi keberhasilan program kerja masing-masing.
Delegasi
            Delegasi dalam bahasa inggris delegation berarti penyerahan wewenang dari atasan kepada bawahan. Delegasi dapat di definisikan sebagai perlimpahann wewenang dan tanggung jawab formal kepada orang lain untuk melaksanakan kegiatan tertentu. Delegasi selalu berkaitan erat dengan wewenang, oleh sebab itu maka terdapat istilah delegasi wewenang. Delegasi wewenang adalah proses dimana para manajer mengalokasikan wewenang ke bawah kepada orang – orang yang melapor kepadanya. Ada 4 kegiatan,ketika delegasi di lakukan,yaitu :
1.      Pendelegasian menetapkan dan memberikan tujuan dan tugas kepada bawahan.
2.      Pendelegasian melimpahkan wewenang yang diperlukan untuk mencapai tujuan atau tugas.
3.      Penerimaan delegasi,baik implisit atau eksplisit,menimbulkan kewajiban atau tanggung jawab.
4.      Pendelegasian menerima pertanggungjawaban bawahan untuk hasil – hasil yang dicapai.
Efektifitas delegasi merupakan factor utama yang menentukan sukses dan tidaknya seorang manajer.
Alasan Mengapa Pendelegasian Harus dilakukan (dampak positivyang di timbulkan dari suatu pendelegasian)
1.      Pendelegasian memungkinkan manajer dapat mencapai hasil yang lebih maksimal di bandingkan dengan apabila seorang menejer mengerjakan tugas tersebut seorang diri.
2.      Delegasi wewenang dari atasan kepada bawahan merupakan proses yang diperlukan dalam suatu organisasi yang bertujuan agar organisasi tersebut dapat berfungsi lebih efisien.
3.      Delegasi memungkinkan seorang manajer dapat memusatkan tenaganya pada tugas – tugas yang lebih di perioritaskan.
4.      Delegasi memungkinkan seorang bawahan untuk tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik,dan dapat di jadikan sebagai sarana untuk belajar dari kesalahan.
5.      Delegasi di butuhkan untuk pengambilan suatu keputusan,hal ini di karenakan tidak semua manajer mempunyai kemampuan yang tinggi, kebanyakan seorang manajer hanya mengetahui “the big picture” tanpa mengetahui hal – hal yang lebih rinci di dalamnya,dengan adanya pendelegasian maka seorang manjer dapat bekerja sama dengan bawahannya untuk mengambil suatu keputusan yang benar – benar tepat.


Pedoman Klasik untuk Delegasi yang Efektif
Prinsip – prinsip klasik yang dapat di jadikan dasar untuk delegasi yang efektif, antara lain :
1.      Prinsip Skalar. Dalam proses pendelegasian harus ada garis wewenang yang jelas dari tingkatan organisasi yang paling tinggi ke tingkatan yang lebih rendah, dengan adanya garis wewenang yang jelas maka akan lebih memudahkan bagi setiap anggota untuk mengetahui jalannya suatu pendelegasian yang di berikan, dan kepada siapa delegasi tersebut akan di pertanggungjawabkan. Dalam pembuatan garis wewenang dibutuhkan delegasi penuh,artinya semua tugas organisasi harus di bagi, hal ini harus di lakukan untuk menghindari adanya (a) gaps,yaitu tugas – tugas yang tidak di ketahui siapa penangungjawabnya, (b) overlaps, yaitu tanggung jawab atas tugas yang sama di berikan kepada lebih dari satu individu, dan (c) splits, yaitu tanggung jawab atas tugas yang sama diberikan kepada lebih dari satu satuan organisasi. Apabila hal – hal di atas tidak dapat di hindari maka akan terjadi kesenjangan di dalam suatu organisasi.
2.      Prinsip kesatuan perintah. Prinsip kesatuan perintah menyatakan bahwa setiap bawahan dalam suatu organisasi harus melapor kepada seorang atasan saja. Pelaporan lebih dari satu atasan akan menyebabkan seorang individu mengalami kesulitan untuk mengetahui kepada siapa pertanggung jawaban diberikan dan intruksi mana yang harus diikuti. Disamping itu bawahan dapat menghindari tanggung jawab atas pelaksanaan tugas yang di anggap kurang bermutu dengan alasan banyaknya tugas dari atasan lain.
3.      Tanggung jawab, wewenang dan akuntabilitas. Prinsip ini menyatakan bahwa suatu organisasi di harapkan dapat menggunakan sumber daya dengan efisien, yaitu dengan melimpahkan suatu tugas organisasi kepada bawahan yang mengetahui dengan detil informasi yang berkaitan dengan tugas tersebut. Bagian terpenting dari adalah tanggung jawab dan wewenang adalah akuntabilitas,yaitu kemampuan seorang manajer untuk mempertanggungjawabkan tugas yang di kerjakannya dan tugas yang di kerjakan oleh bawahannya.
            Faktor – Faktor yang Mempengarui Seorang Manajer Gagal dalam Pendelegasian
Delegasi adalah faktor kritis bagi suatu manajemen organisasi yang efektif, tetapi fakta membuktikan,ada banyak manajer yang gagal dalam tugas mendelegasian, hal ini di karenakan, antara lain :
1.      Manajer merasa lebih tinggi kekuasaannya dan lebih berhak mengambil suatu keputusan.
2.      Manajer tidak siap menghadapi risiko bahwa bawahannya mengerjakan tugas dengan salah.
3.      Manajer tidak atau kurang mempercayai kinerja bawahannya.
4.      Manajer merasa bahwa bawahannya lebih senang untuk tidak mempunyai hak dalam pengambilan suatu keputusan.
5.      Manajer takut bahwa bawahanya akan mengerjakan tugas dengan efektif dan lebih baik dari kinerja manajer,sehingga posisinya akan terancam.
6.      Manajer tidak mempunyai kemampuan manajerial untuk mendelegasikan tugasnya.
            Faktor – Faktor yang Mempengarui Bawahan Untuk Tidak Menerima Delegasi
Hambatan – hambatan dalam pendelegasian,tidak hanyya berasal dari seorang manajer, tetapi juga pada bawahan, hal – hal yang menyebabkan bawahan tidak menerima delegasi,antara lain :
1.      Delegasi berarti bahwa seorang bawahan akan menerima tambahan tanggung jawab untuk memecahkan suatu permasalahan, faktanya bagi seorang bawahan akan lebih mudah untuk menanyakan solusi kepada seorang manajer (atasan) daripada harus membuat suatu keputusan sendiri, hal ini di pengarui adanya rasa takut bagi seorang bawahan dalam mengambil suatu keputusan yang salah.
2.      Adanya suatu perasaan takut salah dalam mengambil sebuah keputusan yang pada akhirnya menuai sebuah kritikan.
3.      Banyak bawahan yang kurang mempunyai kepercayaan diri dan merasa tertekan apabila dilimpahi wewenang untuk membuat suatu keputusan.
            Hal – Hal yang Dapat Dilakukan untuk Menanggulangi Faktor – Faktor Penghambat Delegasi
untuk mengatasi hambatan –hambatan dalam pendelegasian, maka harus di lakukan cara – cara sebagai berikut :
1.      Adanya kesediaan manajer untuk memberikan wewenang dan kebebasan kepada bawahannya untuk melaksanakan tugas yang dilimpahkan kepada bawahan.
2.      Manajer harus menerima adanya perbedaan cara pemecahan masalah dan pengambilan keputusan bawahannya yang memungkinkan adanya kesalahan yang di lakukan bawahannya.
3.      Manajer harus memberi kebebasan kepada bawahannya untuk memecahkan masalahnya sendiri dan belajar dari kesalahan yang sudah pernah dilakukan.
4.      Adanya suatu kesalahan yang dilakukan bawahan,hendaknya tidak menyebabkan seorang manajer untuk mengurangi delegasi yang diberikan kepada bawahan,tetapi seorang manajer hendaknya memberikan latihan dan dukungan yang lebih kepada bawahannya.
5.      Adanya komunikasi antara manajer dan bawahannya akan meningkatkan saling pengertian dan membuat delegasi lebih efektif.
6.      Manajer yang mengetahui kemampuan bawahannya akan lebih realistis dalam menentukan tugas – tugas yang dapat dikerjakan oleh bawahannya.

Louis Allen mengemukakan beberapa teknik khusus untuk membantu seorang manajer melakukan delegasi dengan efektif, teknik – teknik tersebut,antara lain :
1.      Tetapkan tujuan. Bawahan harus diberitahu maksud dan pentingnya tugas – tugas yang didelegasikan kepada mereka.
2.      Tegaskan tanggung jawab dan wewenang. Bawahan harus diberi informasi dengan jelas mengenai apa yang harus di pertanggungjawabkan dan bagian sumber daya organisasi mana yang ditempatkan di bawah wewenangnya.
3.      Berikan motivasi kepada bawahan. Manajer dapat memotivasi bawahan melalui perhatian pada kebutuhan serta tujuan yang akan dicapai.
4.      Meminta penyelesaian kerja. Manajer memberikan pedoman,bantuan informasi kepada bawahan, dan bawahan harus melaksakan pekerjaan yang telah didelegasikan dengan sungguh – sungguh.
5.      Berikan latihan. Manajer perlu mengarahkan bawahan untuk mengembangkan pelaksanaan kinerjanya.
6.      Adakan pengawasan yang memadai. Sistem pengawasan yang terpercaya (seperti laporan mingguan)di buat agar manjer tidak perlu menghabiskan waktunya dengan memeriksa pekerjaan bawahan terus menerus.
Pengertian Wewenang
Wewenang sangat berpengaruh terhadap berjalannya suatu organisasi, ada 2 pandangan yang saling berlawanan mengenai sumber wewenang, yaitu teori formal dan teori penerimaan.
1. Teori formal (pandangan klasik). Wewenang merupakan anugerah, ada karena seseorang diberi, diwarisi atau dilimpahi hal tersebut. Beranggapan bahwa wewenang berasal dari tingkat masyarakat yang tinggi dan kemudian diturunkan dari tingkat ke tingkat. Jadi pandangan ini menelusuri sumber tertinggi dari wewenang ke atas sampai sumber terakhir, dimana untuk organisasi perusahaan adalah pemilik atau pemegang saham.
2. Teori penerimaan (acceptance theory of authority). Wewenang timbul hanya jika dapat diterima oleh kelompok atau individu kepada siapa wewenang tersebut dijalankan. Pandangan ini menyatakan kunci dasar wewenang oleh yang dipengaruhi (influence) bukan yang mempengaruhi (influencer). Jadi, wewenang tergantung pada penerima (receiver), yang memutuskan untuk menerima atau menolak.
Pengertian Wewenang Menurut Beberapa ahli
1. Menurut Louis A. Allen dalam bukunya, Management and Organization :Wewenang adalah jumlah kekuasaan (powers) dan hak (rights) yang didelegasikan padasuatu jabatan.
2. Menurut Harold Koontz dan Cyril O’Donnel dalam bukunya, The Principles of Management Authority, wewenang  adalah suatu hak untuk memerintah / bertindak.
3. Menurut G. R. Terry: Wewenang adalah kekuasaan resmi dan kekuasaan pejabat untuk menyuruh pihak lainsupaya bertindak dan taat kepada pihak yang memiliki wewenang itu.
4. Menurut R. C. Davis dalam bukunya, Fundamentals of Management : wewenang adalah hak yang cukup, yang memungkinkan seseorang dapat menyelesaikansuatu tugas/kewajiban tertentu.
Berdasarkan pengertian para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa wewenang adalah hak yang dimiliki seseorang untuk memerintah orang lain agar melakukan hal tertentu sehingga dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Wewenang seperti halnya syarat dalam tubuh manusia.Tanpa otak dan syaraf tubuh manusia tidak dapat berfungsi.
Wewenang terbagi atas 3 jenis :
a. Line Authority (wewenang lini), wewenang manajer yang bertanggung jawab langsung, diwujudkan dalam perintah secara langsung sebagai rantai komando organisasi,diturunkan kebawah melalui tingkatan organisasi untuk mencapai sasaran organisasi.
b. Staff Authority (wewenang staf), adalah hak yang dimiliki oleh para staf atau para spesialis untuk memberi saran, rekomendasi atau konsultasi kepada personalia lini. Hal ini tidak berarti staf mempunyai wewenang memerintah lini untuk mengerjakkan sesuatu, hanya sebatas memberi saran, rekomendasi atau konsultasi.
c. Functional Authority (wewenang fungsional), wewenang anggota staf departemen untukmengendalikan aktivitas departemen lain karena berkaitan dengan tanggung jawab staf spesifik. Bila dilimpahi wewenang fungsional oleh manajemen puncak, seorang staf spesialis mempunyai hak untuk memerintah satuan lini dimana hal tersebut merupakan keahlian staf yang bersangkutan.
Perbedaan Wewenang dan Kekuasaan
Kekuasaan sering disamakan dengan wewenang padahal keduanya mempunyai arti yang berbeda meskipun kekuasaan dan wewenang sering ditemui bersama.Wewenang adalah hak untuk melakukan sesuatu sedangkan kekuasaan adalah kemampuan untuk melakukan hak tersebut. Wewenang tanpa adanya kekuasaan atau kekuasaan tanpa wewenang akan menimbulkan konflik dalam suatu organisasi, oleh karenanya keduanya harus berjalan beriringan. Kekuasaan ada2,yaitu : kekuasaan posisi dan kekuasaan pribadi. Kekuasaan posisi timbul dari wewenang yang formal dalam suatu organisasi, besarnya kekuasaan yang diperoleh tergantung dari seberapa besar wewenang tersebut diberikan kepada individu yang menduduki posisi tertentu. Kekuasaan pribadi didapatkan dari para bawahan atau pengikut atas dasar rasa kagum,respeck dan keterikatan mereka pada seorang pemimpin
Sumber – Sumber Kekuasaan
1.      Kekuasaan balas jasa, kekuasaan ini berasal dari sejumlah balas jasa positivseperti : jenjang karir,perlindungan,uang, dan sebagainya yang diberikan kepada penerima untuk melaksanakan suatu perintah.
2.      Kekuasaan paksaan, kekuasaan ini berasal dari apa yang dirasakan orang bahwa suatu hukuman seperti : dipecat dan ditegur akan diterima apabila mereka tidak melaksanakan perintah pimpinan.
3.      Kekuasaan sah, kekuasaan ini berkembang dari nilai – nilai intern yang berpendapat bahwa seorang pimpinan mempunyai hak untuk mempengarui bawahan dan seseorang atau bawahan mempunyai suatu kewajiban untuk menerima pengaruh tersebut.
4.      Kekuasaan mengendalikan informasi, kekuasaan ini berasal dari pengetahuan yang dimiliki seseorang dan orang lain tidak memilikinya.
5.      Kekuasaan panutan, kekuasaan ini berdasarkan identifikasi atau penilaian orang – orang kepada seorang pimpinan dan menjadikan pimpinan tersebut sebagai panutan karena memiliki karisma pribadi, keberanian,  dan sifat – sifat yang lain.
6.      Kekuasaan ahli,hasil dari ilmu dan keahlian seorang pemimpin dalam bidangnya.

PENUTUP
Kesimpulan
Jadi dapat disimpulkan bahwa koordinasi adalah suatu usaha kerja samaatau proses pengintegrasian antar unit, bidang atau departemen untuk mencapai suatu tujuan secara efisien. Tanpa koordinasi setiap individu, bagian, unit atau departemen akan kehilangan pegangan dalam menjalankan organisasi. Wewenang adalah hak yang dimiliki seseorang untuk memerintah orang lain agar melakukan hal tertentu sehingga dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Wewenang seperti halnya syarat dalam tubuh manusia.Tanpa otak dan syaraf tubuh manusia tidak dapat berfungsi.Delegasi dapat di definisikan sebagai perlimpahann wewenang dan tanggung jawab formal kepada orang lain untuk melaksanakan kegiatan tertentu. Delegasi selalu berkaitan erat dengan wewenang, oleh sebab itu maka terdapat istilah delegasi wewenang. Oleh karena itu baik koordinasi, delegasi maupun wewenang harus dijalankan secara selaras agar dapat mencapai suatu tujuan organisasi.

DAFTAR PUSTAKA
Handoko T Hani,Manajemen,edisi kedua,BPFE- Yogyakarta,1984
JamesA.F.Stoner,R.EdwardFreeman&Wilhelmus,Manajemen,edisi kelima,intermedia,1994

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar